KURIKULUM MERDEKA; Merdeka Dari Mana?

Pemantik: Bangkit Satria

Semenjak tahun ajaran baru ini 2022/2023 kurikulum baru yang diberi nama kurikulum merdeka resmi diberlakukan untuk parasiswa baru, sedangkan angkatan diatasnya masih menggunakan kurikulum 2013 revisi. Kurikulum merdeka diproyeksikan mampu meningkatkan kualitas pendidikan nasional, yang dalam berbagai lembaga survai selalu berada di level rendah. Kurikulum merdeka dianggap “pembaharuan” dalam pendidikan nasional, kesan tersebut dibangun dengan kalimat tamplet “kita harus keluar dari zona nyaman dan meninggalkan kebiasaan lama” kalimat ini muncul setiap ada respon pesimis akan kurikulum baru ini. Kurikulum yang memihak kepada siswa, kurikulum yang membebaskan siswa untuk memilih, kurikulum yang memanusiakan siswa, guru bisa dengan leluasan mengajar tanpa dibebani tugas administratif, begitulah narasi yang mempromosikan kurikulum merdeka.

Sama seperti kurikulum-kurikulum sebelumnya kurikulum merdeka memang di narasikan sebagai juru selamat pendidikan nasional, dan juga seperti kurikulum-kurikulum sebelumnya juga kurikulum merdeka keliatanya cuma sebagai kurikulum proyek mentri pendidikan saja. Melihat pengalaman yang sudah-sudah kurikulum baru hanya akan “hype”diawal dan tidak ada lagi pengawasan lanjutan. Nada-nada pesmis sudah banyak muncul walaupun kurikulum merdeka baru saja diterapkan. Dari kurikulum merdeka hanya mengulang permasalahan yang sama saat diterapkannya kurikulim 2013 sampai dengan masalah penilaian yang begitu rumit di kurikulum baru ini. Membahasan masalah penilaian dikurikulum baru emang sangat rumit, guru harus membuat pembelajaran dari metode dan penilaian sesuai dengan jenis belajar siswa, jadi sedari awal guru harus membagi kelas berdasarkan jenis belajaranya, setiap kelompok tersebut akan dberikan metode, stimulus, dan penilaian yang berbeda berdasarakan jenis belajarnya. Bisa dibayangkan bagaimana ribetnya guru dalam kurikulum merdeka ini, terlebih bila ada guru yang memegang lebih dari 5 kelas.

Salah satu yang bisa diapresiasi dalam kurikulum merdeka adalah penggunaan teori-teori pendidikan dari pemikir Indonesia. Teori pendidikan Ki Hadjar Dewantoro dicantumkan sebagai landasan teori dalam kurikulum merdeka ini, namun hal ini bagi saya pribadi malah memunculkan masalah. Bagaimana mungkin “manusia merdeka” sebagai tujuan dalam teorinya Ki Hadjar diterjemahkan dengan “merdeka” memilih jurusan di perkuliahan. Atribut-atribur “manusia merdeka” dalam teorinya Ki Hadjar seperti, kritis, dapat berpikir secara mandiri, keingintahuan, direduksi dengan pandangan pragmatis seperti memilih jurusan atau karir dikemudian harinya, penambahan mata pelajaran vokasi di sekolah umum malah menebalkan bahwa pemerintah memang merancang kurikulum unutk membuat generasi mudanya sebagai pekerja bukan manusia merdeka seperti apa yang diharapkan Ki Hadjar Dewantoro.

Fenomena Media Sosial

Pemantik: Tara (@bersuarsuara)

Ketika sedang tidak ada hal yang kita lakukan, biasanya kita cenderung menyalakan gadget kita lalu tanpa sadar kita membuka twitter atau instagram atau facebook untuk sekadar melepas capek mikir dunia yang sedang kita kerjakan. Aktifitas ini dilakukan oleh semua kalangan baik milenial (sebutan untuk generasai muda) sampai generasi boomer (istilah untuk generasi bapak atau ibu). Kenapa sih kita bermain sosial media?

Sebelum berbicara terlalu jauh mengenai sosial media, ada baiknya kita memahami dulu arti kata sosial media tersebut. Dari pada penulis merujuk pada artikel-artikel yang banyak di internet, penulis berpendapat bahwa sosial media adalah; Interaksi manusia melalui sebuah media (dalam hal ini adalah gadget) dan melalui internet. Dari definisi tersebut, penulis beranggapan bahwa sosial media adalah sebuah cara baru untuk berinteraksi dengan siapa saja, oleh siapa saja, kapan saja, kepada siapa saja dan dari mana saja.

Penulis adalah seorang social media analyst – sebutan untuk orang yang menganalisa tren di sosial media – yang saat ini melihat fenomena sosial media semakin banyak cluster-nya. Sebut saja di twitter yang memiliki 330 juta pengguna bulanan aktif, kecenderungan pengguna sosial media ini adalah membagikan sesuatu baik itu yang berupa opini, kejadian up to date dan hal lain baik itu berupa ciutan (sebuah post tulisan) foto dan video. Namun, tidak jarang juga twitter dijadikan ajang untuk mencari popularitas instan oleh pengguna yang mencari sensasi agar namanya dikenal (viral). Hal ini tidak hanya terjadi pada satu platform saja tapi juga terjadi di berbagai sosial media yang lain.

Sosial media memiliki beberapa klasifikasi pengguna yang mana hal ini bisa menjadi “tolak ukur” penilaian singkat (bisa disebut juga first-short Impression) terhadap akun yang kita lihat. Kita pasti tidak asing dengan istilah alter-ego account, role play, personal account dan lain-lain jika kita adalah seseorang yang aktif menggunakan sosial media lebih dari sama dengan satu jam per hari. Akun tersebut, membawa “persona” masing-masing yang sudah menjadi stereotype tertentu.

Mari kita berbicara mengenai alter-ego account atau sisi kita yang lain. Secara singkat, alter-ego adalah kepribadian kita yang tidak kita tunjukkan kepada orang-orang disekitar kita. Dalam dunia sosial media, alter-ego adalah alternatif untuk menuangkan apa yang ada di kepala atau sekadar mencari dan berinteraksi dengan orang baru yang sepemikiran dengan kita atau hanya untuk membagikan sesuatu tanpa takut merusak privacy yang kita miliki. Tren alter-ego di sosial media ini menjadi sebuah hal yang menarik, dimana penulis menemukan banyak hal positif dan negatif dari kebebasan semi-anonim yang lekat sekali dengan klasifikasi ini.

Kebebasan berekspresi dan mengeluarkan opini di sosial media terkadang berbenturan dengan norma-norma yang ada dalam kehidupan. Melalui penggunaan sosial media dengan akun semi-anonim, kebanyakan orang lebih bebas untuk mengemukakan hal-hal yang menjadi isi pikiran dan hati. Hal positif yang menjadi catatan disini adalah menjadi diri sendiri yang sebenarnya tanpa adanya batasan. Namun efek negatif dari kebebasan terkadang tanpa sadar melukai perasaan orang lain, entah itu berupa body shaming atau menghina pemikiran orang lain dengan tanpa disadari.

Hal yang menarik dari fenomena kebebasan adalah terkadang orang lupa bahwa kebebasan itu memiliki batas yakni kebebasan orang lain. Jika dalam kehidupan kita memiliki etika, maka dalam kehidupan bersosial media kita memiliki Etiket (Etika Berinternet). Melihat tren satu tahun belakang, sosial media tak ubahnya menjadi ajang membuka aib. Apapun alasan dibalik itu, bukan sebuah langkah bijak jika harus menyebarkan hal-hal sensitif. Jika memang seseorang melakukan hal yang tidak sesuai norma bahkan sampai melanggar hukum, tindakan hukum adalah hal yang tepat. Bukan malah menjadi hakim atas kesalahan orang lain.

Alter-Ego adalah satu dari sekian banyak klasifikasi akun yang ada di sosial media dan paling diminati. Tren ini menunjukkan bahwa banyak orang yang memiliki kecenderungan untuk tidak ingin dikenal karena takut privacy mereka terusik. Fenomena ini patut kita tanyakan ke diri kita sendiri, apakah karena netizen adalah orang yang paling depan menghujat jika seseorang melakukan kesalahan melalui sosial media?

Sebagai seorang manusia yang secara fitrahnya pasti membutuhkan orang lain, sosial media bisa menjadi wadah kita untuk menjalin pertemanan dengan siapapun karena pada hakikatnya, sekalipun tidak bertatap muka, sosial media tetaplah interaksi antar manusia . Pernah ada sebuah pertanyaan alasan sosial media itu dibuat adalah untuk mendekatkan yang jauh, maka dengan banyaknya pengguna (dengan contoh klasifikasi diatas) bisa menjadi keuntungan kita dengan menjalin relasi atau mempelajari hal baru atau bahkan media untuk membagi ilmu kepada orang lain. Semua tergantung dari apa motifasi kita bermain sosial media.

Corona: Virus Viral dan Ketakutan Global

Pemantik: Rahmita Mulia Putri

Masih ingat film Train to Busan yang bercerita sebuah virus yang menginfeksi manusia kemudian menjadi zombie dan membunuh kota dalam sekejap? Di dunia nyata cerita yang sama sedang terjadi. Coronavirus yang berlabel 2019-nCoV menjelma mimpi buruk bagi dataran China diawal 2020. Virus yang mulai menjadi idola media sejak penghujung 2019 ini diduga muncul di pasar hewan Huanan yang terletak di Wuhan sebuah kota di China Tengah. Menurut Journal of Medical Virology kebanyakan orang yang terinfeksi 2019-nCoV terpapar daging hewan liar yang dijual di pasar Huanan yang menjual unggas, ular, kelelawar dan hewan ternak lainnya.

Coronavirus adalah kerabat dekat dari SARS dan MERS yang telah merenggut ratusan nyawa manusia dibeberapa decade terakhir. Ketiganya bersifat zoonosis yang artinya virus ini disebarkan oleh hewan dan manusia. Penyebaran pada manusia terjadi sebagaimana virus penyebab flu lainnya yaitu dengan batuk dan bersin, serta sentuhan dengan yang terinfeksi. Coronavirus adalah virus yang berbentuk bulat dan berdiameter sekitar 100-120nm. Virus ini pertama kali diisolasi pada tahun 1965 dari cairan hidung seorang anak yang menampakan gejala pilek (common cold) yang biasanya disebabkan infeksi Rhinovirus atau Influenza.

Secara umum, Coronavirus merupakan induk dari virus-virus seperti SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome) yang lebih dulu dikenali. Ketiganya menyerang saluran pernafasan, mengakibatkan sesak nafas dan radang akut. Ketiadaan obat dan belum ada control yang tepat terhadap penyakit ini menambah angka bertahan hidup penderita semakin menurun. Bahkan sampai saat ini belum tersedia vaksin untuk penyakit menular tersebut (Benny Yong dan Livia Owen:2015)

Dalam perkembangannya, SARS yang muncul lebih dulu pada 2002 sampai 2003. Sangat berbahaya dan mewabah hingga 8273 kasus dan menyebabkan 775 meninggal dunia (Elshinta, 2015). Selanjutnya MERS yang pertama diidentifikasi tahun 2012 di negara Arab Saudi, diduga berasal dari satu jenis kelelawar yang berasal dari Timur Tengah dan menginfeksi unta yang kemudian dikonsumsi manusia sehingga menular. Penyakit MERS sebenarnya sulit menular kepada manusia yaitu dengan 1695 konfirmasi dengan jumlah kematian 609. WHO mengkonfimasi 36% pasien yang dilaporkan mengidap MERS mengalami kematian dan lebih 85% kasus penyakit menular ini berasal dari Arab Saudi. Sebagai catatan, negara Arab Saudi adalah negara yang banyak dikunjungi orang dari penjuru dunia sehingga menyebabkan penyebaran MERS terhadap manusia dianggap kecil secara angka. Kemudian akhir-akhir ini salah satu strain Coronavirus baru muncul yaitu 2019-nCoV yang mewabah di Wuhan, China menginfeksi 2.300 orang dalam 27 hari dan pada waktu singkat kota Wuhan menjadi kota mati, aktivitas lumpuh dan terisolasi. Virus ini diduga juga muncul dari kelelawar dan ular yang dijual di pasar hewan Huanan, kemudian menginfeksi hewan lain yang dijual di pasar yang kabarnya mengacuhkan kebersihan tersebut. Hewan-hewan terinfeksi itu kemudian dikonsumsi oleh masyarakat dan menularkan virus 2019-nCoV kepada manusia.

Sejauh ini penanganan yang diberikan oleh pemerintah China untuk virus 2019-nCoV adalah dengan menyediakan rumah sakit sebagai pusat karantina penderita, membagikan masker dan memberikan vaksinasi untuk meningkatkan system kekebalan tubuh bagi populasi di wilayah khusus sehingga muncul istilah populasi vaksinasi yaitu populasi rentan yang telah diberi vaksin. Wilayah khusus yang dimaksud oleh pemerintah China adalah kota Wuhan yang sampai hari ini masih terisolir sebagaimana

Penyebaran penyakit menular diantara wilayah yang berbeda adalah fenomena yang melibatkan banyak kelas yang berbeda. Untuk mengontrol penyebaran penyakit menular kita harus memahami bagaimana pengaruh pertumbuhan dan penyebaran penyakit menular tersebut. Banyak factor yang mempengaruhi dinamika populasi akibat penyakit menular, diantaranya perpindahan populasi, gaya hidup dan meningkatnya perjalanan luar negeri. Factor perpindahan populasi menjadi factor penting yang mempengaruhi penyebaran penyakit di wilayah yang berbeda (Benny Yong dan Livia Owen:2015).

Kasat mata, Coronavirus menyebabkan banyak orang yang takut dan menghindari untuk mengunjungi China terutama pada wilayah yang dianggap sebagai pusat penyebaran 2019-nCoV. Menurut rilis dari kementerian perhubungan China, penyebaran virus 2019-nCoV yang berbarengan dengan perayaan tahun baru dan tahun baru Imlek menyebabkan jumlah wisatawan yang mendatangi China turun diatas 40%. Hal ini sangat berpengaruh bagi China yang menjadi pusat perayaan Imlek dunia. Lalu bagaimana dengan sikap negara-negara yang menjalin hubungan dengan China, termasuk Indonesia? Apakah sudah menyiapkan pencegahan khusus untuk menghambat masuknya Coronavirus ke Indonesia? Mari kita diskusikan.

Suku Same (Bajo): Asal-usul yang Belum Diketahui

Pemantik: Asman

Suku Bajo adalah suku yang unik berbeda dari suku yang lainnya. Hal ini disebabkan karena suku Bajo belum diketahui asal usulnya. Sampai sekarang, asal-usul suku Bajo sulit untuk dipecahkan dan masih menjadi sebuah misteri. Namun, bukan berarti suku Bajo yang tidak diketahui asal-usulnya ini dulunya tidak memiliki kelompok atau kerajaan yang menjadikan mereka bersatu. Sehingga pertanyaan yang menarik ketika kita mendiskusikan tentang suku Bajo adalah “dari mana?” Sampai sekarang masih banyak perdebatan, baik di kalangan internal suku Bajo maupun di luar suku Bajo, seperti para peneliti baik nasional maupun internasional.

Suku Bajo mendiami berbagai wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang ada di Indonesia. Fakta lain pun menunjukan bahwa suku Bajo juga tersebar dan mendiami beberapa wilayah di negara-negara tentangga, seperti di perairan laut Sabah Malaysia, kepulauan Sulu Filipina Selatan, bahkan ada juga yang menyebutkan suku Bajo tinggal dan menetap di wilayah laut Thailand, India, Jepang hingga Madagaskar.

Pendapat lain bahwa suku Bajo berasal dari Johor Malaysia. Konon katanya dikisahkan seorang putri raja Johor yang menghilang. Atas kejadian itu, raja Johor memerintahkan pasukan untuk mencari putri tersebut ke segala penjuru mata angin, termasuk ke wilayah Indonesia, dan para prajurit tidak boleh kembali sebelum sang putri ditemukan. Alhasil, para prajurit tidak menemukan sang putri dan memutuskan untuk tidak kembali serta menetap pada titik pencarian masing-masing.

Sejarah lain menyebutkan, suku Bajo berawal dari wilayah utara Indonesia, yakni Filipina kemudian menyebar ke seluruh wilayah perairan Indonesia. Versi yang berbeda pula diterangkan bahwa suku Bajo yang tersebar dimana-mana merupakan tim Armada angkatan laut kerajaan Sri Wijaya yang dikenal dengan ketangguhan serta kepiawaiannya dalam mengarungi lautan.

Sudah banyak ahli maupun pakar yang berusaha mencari tau dan memecahkan persoalan sejarah asal-usul suku Bajo. Banyak di antaranya, mereka yang ahli dalam dunia antropologi dan sejarah. Namun, penelitian-penelitian yang mereka lakukan hanya berakhir pada hipotesis belaka. Baru-baru ini, seorang ahli linguistik juga peneliti dari Universitas La Rochella Prancis yang bernama Philipe Grange berusaha mengungkap asal-usul suku Bajo dengan kajian kebahasaan serta menghubungkan pendapat-pendapat sebelumnya.

Pada seminar yang bertajuk “Diaspora Maritim Suku Bajo Indonesia: mengurai sejarah lewat bahasa, Grange menerangkan telah banyak teori yang diajukan untuk mengungkap asal-usul suku Bajo, tetapi belum ada yang memuaskan. Misalnya, keterangan yang mengatakan orang bajo dari Johor yang diambil dari cerita putri Johor yang hilang. Menurut Grange, cerita ini dasarnya terlalu lemah karena tidak ada bukti arkeologi atau bukti bahasa. Selain itu menurut Grange, kerajaan Johor juga bermula sekitar abad 14 atau 15. Jauh sebelum itu, suku Bajo sudah tersebar di nusantara. Grange juga membantah cerita Bajo NTT yang menganggap nenek moyang mereka adalah seorang putri, sebab menurut Grange, tidak mungkin seorang putri berlayar sendiri mengarungi lautan. Selanjutnya pada teori lain yang mengatakan Bajo berasal dari muara sungai Barito. Dasar teori itu adalah bahasa Dayak ngaju dan Bajo ada 12 kata yang sama. Selanjutnya, Grange menyimpulkan bahwa banyaknya Versi cerita dan teori sebelum-sebelumnya belum mampu membuktikan serta menjelaskan kebenaran tentang asal-usul suku Bajo. Walaupun belakangan ini beberapa peneliti berusaha membuktikan melalui tes DNA, namun sampai sekarang belum diketahui hasil yang pasti terkait asal-usul suku Bajo. Dalam seminarnya, Grange juga memaparkan data-data linguistic dan genom yang menurutnya, data-data tersebut penting sebab pembuktian orang Bajo tidak sekedar identitas Budaya, namun juga warisan genetic. Hasil-hasil studi genom terakhir menurutnya, Bajo Indonesia telah lama hidup bersama masyrakat Bugis. Tidak hanya itu, ditemukan pula pembawaan gen yang amat beragam.

Lalu darimanakah sebenarnya asal-usul suku Bajo? Apakah semua suku Bajo yang ada di seluruh dunia ini tidak berkaitan dan memiliki kesamaan satu sama lain? Atau justru sebaliknya, mereka justru saling berkaitan yang berasal dari garis keturunan yang sama? Yang jelas, semua itu masih sulit dibuktikan sampai sekarang masih menjadi sebuah misteri.

Terlepas dari cerita sejarah yang kabur dan beberapa peenelitian, kenyataannya suku Bajo telah menjadi salah satu suku pembentuk keberagaman suku yang ada di Indonesia dan telah menyebar dari sabang sampai merauke. Hampir seluruh wilayah perairan Indonesia. Penyebarannya ditandai dengan nama Bajo (Aceh, kepulauan Anambas, Bajoe, teluk Bone Sulawesi Selatan, Sumbawa Teluk Bima, Labuan Bajo Manggarai Flores, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dll).

Perkembangan masyarakat suku Bajo dari tahun ke tahun semakin maju dan terus berkemabang. Perkembangan itu dapat kita saksikan dari orientasi mereka pada pendidikan, melanjutkan sekolah sampai ke perguruan tinggi, ingin menjadi seorang pengusaha, bahkan ada yang terjun ke dunia politik. Hal ini menepis anggapan orang-orang di luar Bajo yang selalu mengatakan orang Bajo identik dengan kemiskinan dan ketertinggalan. Masyarakata suku Bajo di berbagai wilayah lambat-laun berusaha dengan serius memajukan dan mengangkat derajat suku Bajo yang saat ini masih tertinggal. Sebagai bentuk keseriusannya, masyarakat suku Bajo bersama presiden suku Bajo juga membentuk “Kerukunan Keluarga Bajo” yang beranggotakan seluruh warga suku Bajo yang ada di Indonesia, bahkan menjalin hubungan dengan masyarakat Bajo yang ada di Luar Indonesia seperti Thailand, Filipina, dan Malaysia dengan membentuk The Bajau International Communities Confederation (BICC).

Berkat kesadaran ini, suku Bajo dengan modal kultur dan sosial yang dimiliki berusaha dan berupaya secara kreatif untuk menyatu dengan orang darat. Suku Bajo mulai memanfaatkan relasi sebagai bentuk eksistensi di luar masyarakatnya. Akan tetapi, kesadaran tidak semuanya dialami oleh masyarakat suku Bajo yang ada di Indonesia. Streotipe masa silam masih berlaku di sebagian masyarakat Bajo yang ada di Indonesia. Di berbagai tempat, orang Bajo nampak tidak diakui keberadaannya. Mereka sering mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakan. Bahkan pemerintah di berbagai wilayah menolak dan tidak mengakui keberadaan mereka.

Berkaca pada kasus November 2014 silam, sekitar 676 warga Bajo (bayi-lansia) ditangkap aparat Indonesia di Kalimantan timur. Mereka ditangkap dengan alasan tidak memiliki identitas kewarganegaraan dan dianggap nelayan asing yang mencuri ikan di Indonesia. Pemerintah Kalimantan timur mengklarifikasi bahwa mereka yang ditangkap adalah orang Malaysia karena mereka suku Bajo. Penangkapan itu juga di dasari alasan bahwa mereka adalah orang Filipina karena perawakan dan bahasa Tagalog yang digunakan.

Kalaupun mereka orang Malaysia karena suku Bajo, tentunya ini tidak bisa jadi alasan bagi pemerintah untuk mengklaim sepihak, sebab di Indonesia sendiri telah banyak hidup dan bermukim orang-orang Bajo di berbagai wilayah pesisir Indonesia. Selain itu, ada juga yang menganggap mereka orang Filipina di lihat dari perawakannya dan bahasa Tagalog yang digunakan. Ini juga merupakan pernyataan yang keliru, sebab Indonesia, Malaysia dan Filipina adalah negara yang masih serumpun bahasanya. Padahal bahasa yang digunakan adalah bahasa Bajo bukan bahas Tagalog. Jadi, penolakan dan klaim pemerintah Indonesia sebenarnya disebabkan kurangnya kepekaan pemerintah Indonesia dan penelusuran lebih jauh. Mungkin ini dipengaruhi oleh faktor ekonomi (ketakutan hasil laut yang dicuri). Tidak menutup kemungkinan mereka adalah suku Bajo yang ada di Indonesia, karena data BPS menyakatan bahwa masih ada suku-suku terpencil yang belum terdata jumlahnya kurang lebih 10.030.

Untuk itu, menangkap dan mengkriminalkan orang-orang Bajo adalah tindakan kurang tepat, dapat memperburuk citra Indonesia di mata dunia. Pemerintah perlu menyadari keberadaan suku Bajo di Indonesia dan membuat kebijakan yang lebih strategis. Masyarakat suku Bajo yang ada di Indonesia mampu memberikan kontribusi lebih bagi Indonesia kalau saja negara dalam hal ini pemerintah menerapkan kebijakan yang melibatkan suku Bajo. Masyarakat suku Bajo akan menjadi garda terdepan dalam membela kedaulatan negara terutama dalam pembangunan benua kemaritiman saat ini. Hal ini telah terbukti dalam sejarah bahwa orang Bajau adalah pelaut tertangguh di nusantara, tentang mereka yang berabad-abad mengarungi samudra, tentang penghuni tepi pantai yang tersebar di seluruh wilayah nusantara.

Radikalisme; Antara Tantangan Bangsa dan Permainan Politik

Pemantik: Aliyul Murtadlo

Radikalisme menjadi wacana yang tak pernah ada habisnya di Indonesia.  Wacana radikalisme selalu muncul dari istana negara hingga warung-warung kopi. Meski begitu, definisi radikalisme oleh pemerintah selama ini tak pernah jelas. Jika definisi yang semu tentang radikalisme ini terus dipertahankan, maka berpotensi pemberangusannya salah sasaran. Ancaman serius radikalisme yang bemuara kepada terorisme menyebabkan awareness (saja) hingga ketakutan yang berlebihan terhadap aksi terror.

Makna radikal dan radikalisme
Radikal berasal dari kata radis atau radix yang berarti akar. Radikal bisa bermakna memiliki sifat yang berhubungan dengan akar. Radical relating to affecting the fundamental nature of something; far reaching thorough; advocating or based on thorough or political or sosial change; representing or supporting an extreme or progresif section of a political party.

Radikal tidak hanya digunakan dalam konteks sosial, konteks Matematika, Biologi dan Kimia pun menggunakan istilah ini. Istiah-istilah semisal radikal bebas sering kita temui dalam iklan produk kesehatan. Hanya saja, di Indonesia akhir-akhir ini kata ini memiliki konotasi negatif. Bahkan PBNU menolak penggunaan kata “radikal” pada Bahan Ajar SD versi Kemendikbud untuk menjelaskan massa radikal perlawanan Indonesia. Teks buku terebut menyatakan  “ …organisasi bersifat radikal adalah Perhimpunan Indonesia (PI), Partai Komunis Indonesia (PKI), Nahdlatul Ulama (NU), Partai Nasional Indonesia (PNI).

Radikalisme adalah bentu –isme dari radikal. Jika akhiran –isme bermakna paham atau aliran, maka secara luas radikalisme bermakna paham untuk radikal “mengakar”. Namun setelah dicek di KBBI kata ini memiliki ta’rif yang dipertegas dan mengalami spesialisasi. Radikalisme bermakna (1) paham atau aliran yang radikal dalam politik; (2) paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; (3) sikap ekstrem dalam aliran politik.

Meski demikian kamus oxford mengartikan, radicalism; the beliefs or actions of people who advocate thorough or complete political or social reform. Perbedaan antara Kamus Oxford dan KBBI adalah tidakda istilah “cara kekerasan” dan “ekstrem”.  Nah, demikian radikal dan radikalisme memiliki banyak arti dan tergantung kita mau yang mana mengartikan dan versi mana yang kita gunakan.

Ancaman radikalisme
Secara ringkas, narasi yang dibangun saat ini dengan radikalisme membuat ekonomi makro melemah, disebabkan keengganan investor untuk menanamkan modalnya di dalam negeri.. Lebih jauh, radikalisme yang bermuara kepada terorisme menyebabkan ketakutan warga negaranya. Jika tujuan kelompok radikal tercapai, akan banyak perubahan sosial politik yang berpengaruh pada ekonomi, pertahanan dan keamanan. Sangat mungkin untuk terjadinya korban jiwa.  Jika kelompok radikal—yang bersenjata—dengan pihak pemerintah dan berlarut-larut. tentu lebih parah korban jiwa dari peperangan pihak internal negeri ini. Radikalisme (progresif non kekerasan) juga bisa menjadi wadah pendidikan politik bagi warga Negara.

Dalam sebuah presentasi Prof. Mas’ud Said, Ph.D memang ada isu yang menjadi pupuk bagi isu radikalisasi diantaranya: (1) Ketimpangan ekonomi, (2) Ketidakadilan sosial, (3) Penguasaan sumber hidup oleh sekelompok orang, (4) Dominasi dan alih kuasa terhadap sumber strategis, (4) Perebutan kekuasaan dan tensi politik yang tak beraturan, (5) Dengki kelompok yg menyejarah dan adu domba, (5) Kebuntuan komunikasi dan aspirasi yang tersumbat.

Kelima ini mampu menjadi pupuk baik yang radikal yang berasal dari kelompok ekstrim, maupun kelompok prograsif.  Pola saat ini radikalisme melekat dengan Radikalisme (ekstrem) agama dibarengi dengan indoktrinasi agama dalam tataran publik bersamaan dengan konfrontrasi kelompok beragama lainnya. Lebih masalah lagi bagi negara bila ‘pemimpin agama’ menyarankan bentrok fisik sebagai bagian dari bentuk perjuangan agama sebagai jihad sedang Negara dalam kondisi yang lain damai.

Radikalisme dan Polemik Khilafah
Sebuah partai yang bertajuk Partai Pembebasan Indonesia telah dibubarkan, namun ide yang diusung tentang khilafah tak kunjung padam—ya, mustahil melarang pemahaman yang bersemai di dalam otak manusia.
Ide khilafah masih bersemayam di tubuh FPI yang sekarang masih gonjang-ganjing, dan tak kunjung mendapat kejelasan apakah mendapat SKT. Sejauh mana radikal mereka?Ide tentang khilafah juga diamini pemerintah melalui kurikulum Fikih untuk SMA. Meski konsep khilafah yang dipaparkan lebih lunak sedikit dari Partai Pembebasan, lagaknya istilah ini sudah menjadi phobia sendiri bagi mayoritas Muslim di Indonesia. Medadak kaget sehingga Timesindonesia release berita tentang soal Khilafah yang tertulis wilayah Kediri utara tersebut yang tidak jelas kapan dan belum ada verifikasi di MA bagian utara.

Radikalisme dalam pusaran politik.
Sebelum lebih lanjut, disclaimer untuk istilah “politik” di sini bermakna cara merebut dan mempertahankan kekuasaan. Meski politik bermakna luas, kita kesampingkan dulu. Radikalisme sering kali didengungkan oleh presiden dan menteri-menterinya.
Beberapa isu radikalisme di lembaga institusi Negara juga ditemukan tumbuh paham radikalisme. Penelitian bala bala bala menunjukkan bahwa radikalisme di kampus terdapat beberapa angkat tertentu. Berapa hari lalu juga dihebohkan dengan isu adanya polisi Taliban dan polisi India yang ada di tubuh KPK. Sebagai bumbu isu penyedap keluarnya Revisi UU KPK. Menjelang reuni 212 beberapa hari lalu, , direktur Bank Tabungan Negara (BTN) dituding terpapar radikalisme Gara-gara ikut membagikan dukungan terhadap HRS.

Karena itu, Pengamat terorisme dari Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya yang saya lansir dari CNN Indonesia menilai pemerintah perlu membuat definisi yang jelas tentang radikalisme terlebih dulu sebelum mengeksekusi. Menurutnya, memperjelas definisi itu perlu agar misi menangkal radikalisme tepat sasaran. Jika tak ada definisi yang jelas tentang radikalisme, besar kemungkinannya berefek bias ke berbagai aspek. Terlebih, selama ini radikalisme kerap diidentikkan dengan agama tertentu.
Memang, diakui bahwa radikalisme saat ini tertuju pada ormas atau kelompok Islam tertentu. Dan biasanya—meski saya kurang banyak menemui—dilawan dengan isu komunisme. Ini seperti mengulang di era Soekarno, ketika Masyumi jadi oposisi, isu yang dilemparkan adalah kedekatan Sukarno dengan PKI, dan isu yang mengarah kepada Masyumi adalah keterlibatan dalam pemberontakan DI/TII.

Beberapa pertanyaan.
Apakah radikalisme selalu bermuara pada terorisme? Jika Radikalisme yang bermakna seperti KBBI (paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis), sejauh mana Negara mengatur warga negaranya?  Mengacu paragrap terakhir, Jika saja oknum masyumi tidak terlibat dalam pemberontakan DI/TII, apakah tepat pembubaran Masyumi—yang memang memperjuangkan formalisasi syariat via parlemen?

SEKS, MENDING BEBAS DIOMONGIN ATAU BEBAS DILAKUIN?

Pemantik: Pungky Wulansakti Antula

Ketika mendengar kata seks, apa yang biasanya terlintas di benak kalian? Mungkin sebagian besar akan berfikir kalau seks itu vulgar, porno, jorok, dosa, dan berbagai implikasi negatif lainnya. Tidak salah memang, tapi bukan berarti seks selalu berkaitan dengan hal-hal negatif. Padahal kata seks itu sendiri mempunyai arti jenis kelamin, perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan. Tapi bagi masyarakat kebanyakan, kata seks selalu diartikan sebagai hubungan intim antara dua atau lebih individu, bisa antara lawan jenis ataupun tidak.

Bagi masyarakat Indonesia seks merupakan bahasan yang tabu. Tidak banyak orang yang membicarakan seks pada diskusi-diskusi terbuka. Bahkan dalam obrolan santai di tempat nongkrong, bahasan seks lebih sering hanya menjadi bahan bercandaan atau bahkan menjadi topik yang dihindari. Banyak orang yang beranggapan bahwa mereka yang banyak membicarakan seks adalah orang yang “jorok” dan vulgar. Karena anggapan seperti itu, tidak banyak orang tua yang membahas perihal seks dalam keluarganya, terutama kepada anak-anak dan remaja. Padahal rumah dan orang tua seharusnya menjadi tempat yang pertama bagi anak untuk mulai mengetahui pembahasan tentang seks. Seperti yang dikatakan oleh Prof. Nila Moeloek, Menteri Kesehatan periode 2014-2019, di sebuah artike Kompas, “Intinya di keluarga. Orangtua punya tanggung jawab harus memiliki pengetahuan untuk bisa menceritakan ke anak-anaknya. Kita sendiri juga harus menjaga diri kita.”

Selain orang tua dan keluarga, sekolah juga baiknya menjadi tempat yang tepat, aman, nyaman, dan tidak menghakimi bagi anak untuk mendapat pengetahuan tetang seks, terutama mereka yang berusia remaja. Pendidikan seks di sekolah sangat penting dan harus bertahap sesuai dengan tingkat pendidikan, usia, dan kematangan kondisi psikologis anak. Misalnya pada usia SD awal mulai diajarkan bahwa secara biologis manusia terbagi dua, ada laki-laki dan perempuan. Selanjunya bisa diajarkan juga tentang siklus hidup manusia, bahwa manusia sama seperti makhluk hidup lain yang tumbuh dan berkembang biak, dan untuk berkembang biak itu dibutuhkan kerjasama antara laki-laki dan perempuan. Memasuki jenjang SMP dan SMA mulai diajarkan tentang fungsi reproduksi, bahwa anak laki-laki yang sudah mimpi basah berpotensi menghamili anak perempuan yang sudah menstruasi. Selain itu, kesehatan organ reproduksi, dampak negatif dari melakukan seks yang tidak aman juga harus mulai diajarkan. Pun dengan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat terkait isu seksual.

Membahas pendidikan seks tidak hanya selalu berhubungan dengan aktifitas seksual, hubungan intim manusia, tapi bisa terkait dengan hal lainnya, seperti kesehatan reproduksi dan nilai-nilai pada masyarakat yang terkait dengan seksualitas. Menurut Inez Kristanti, seorang psikolog klinis, dampak dari kurangnya pendidikan seks yang memadai di Indonesia, akhirnya banyak yang melakukan aktifitas seksual, terutama remaja, tanpa pengetahuan yang memadai dan pengamanan yang baik. Seharusnya pendidikan seksual yang komprehensif membahas tentang resiko melakukan aktifitas seksual dan juga tentang alat kontrasepsi. Pengetahuan tersebut bukan untuk mengajarkan remaja untuk melakukan seks bebas ataupun seks pra nikah, tapi lebih untuk menjaga mereka dari akibat buruk yang mengikuti perilaku seks bebas. (Sumber artikel: Seks Pada Remaja: Tabu Dibicarakan tapi tak Tabu Dilakukan).

Seharusnya dengan pendidikan seks yang memadai dan tidak menghakimi di Indonesia, bisa mengurangi dampak buruk yang dihasilkan dari aktifitas seks bebas. Selain itu, juga bisa mengurangi maraknya kejahatan-kejahatan seksual yang bisanya di alami oleh anak-anak dan perempuan. Karena salah satu penyebab masih banyak terjadinya kekerasan seksual terutama pada anak-anak adalah kurangnya pendidikan seksual yang memadai. Anak-anak yang masih polos, belum mengetahui batasan-batasan tertentu banyak dikelabui oleh para penjahat kelamin untuk memuaskan nafsu seksual mereka. Dan yang paling miris dari hal ini adalah para pelaku kejahatan adalah mereka yang dianggap dekat dan dipercaya oleh anak kecil.

Fiqih Penanggulangan Sampah Plastik dan Komitmen NU dalam Permasalahan Sampah

Pemantik: Asrofi Al Kindi

Seorang penyelam Inggris tak bisa menahan kekecewaannya, pada laman media sosial antar penyelam, seorang penyelam amatir memposting salah satu destinasi penyelaman favorit dunia, kini dipenuhi plastik. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya, pada bulan itu juga dia bergegas menuju Bali, dan apa yang dikhawatirkannya terbukti. Nusa Peninda tempat konservasi laut dan titik penyelaman kelas dunia itu dipenuhi kubangan plastik.

Richard Horner segera mengambil peralatan selamnya, dengan seperangkat kamera dia mendokumentasikan sampah yang melayang di perairan tersebut. Tak lama kemudian video yang direkamnya menjadi viral dan diberitakan oleh media internasional seperti The Guardian dan Channel News Asia. Permasalahan sampah laut ini merupakan kado pahit dalam Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tahun 2018, karena pada beberapa hari sebelumnya HPSN diperingati secara seremonial dan mendaku sebagai acara bersih sampah terbesar di Indonesia.

Delapan Bulan berselang berita duka datang dari timur Indonesia, pada bulan November 2018 paus sperma ditemukan terdampar dengan sampah 5,9 kg di perutnya. Hasil otopsi menunjukkan bahwa mamalia ini mati karena sampah memenuhi sistem pencernaannya, yang menyebabkan paus ini terus merasa kenyang dan berhenti mengkonsumsi mangsanya. Rentetan tragedi memalukan karena sampah ini menunjukkan bahwa persoalan sampah plastik di Indonesia sudah memasuki taraf mengkhawatirkan.

Namun sebelum sampah plastik kita anggap sebagai pangkal dari persoalan tersebut, ada baiknya kita mengenalinya. Plastik merupakan polimer, sebuah untaian karbon yang diikat oleh unsur-unsur tertentu untuk membentuk plastik yang memiliki karakteristik tertentu sesuai kebutuhan. Mengutip Mongabay.com terdapat 7 jenis kategori plastik berdasarkan bahan penyusun dan karakteristiknya, seperti: PET atau PETE (Polyethylene Etilen Terephalate), HDPE (High Density Polyethylene), PVC (Polyvinyl Chloride), LDPE (Low
Density Polyethylene), PP (Polypropylene), PS (Polystyrene), dan Kategori Lain [SAN (Styrene Acrylonitrile); ABS (Acrylonitrile Butadiene Styrene); PC (Polycarbonate); Nylon]

Plastik pada awalnya diciptakan untuk melindungi alam. Ketika pohon secara masif ditebang sebagai bahan untuk pembuatan pengemas makanan, plastik datang sebagai solusi. Namun seiring waktu berjalan, ketika semua mulai tergantikan oleh plastik, sebuah solusi kian menjadi bencana. Plastik menjadi pencemar dalam 3 keadaan: Makroplastik (menyumbat air dan menganggu pencernaan binatang); Bahan yang terlepas saat plastik mengurai (BPA, Dioksin, Benzena Styrene, Antimoni Trioksida, dan Zat Karisnogenik); dan Mikroplastik yang berukuran sangat kecil (dalam akumulasi besar bersifat karisnogenik).

Lantas bagaimanakah pandangan agama Islam dalam persoalan sampah plastik ini?. Persoalan plastik merupakan persoalan baru dalam dunia fiqih, Al Quran dan Hadis tidak secara eksplisit menyebut persoalan sampah, namun secara implisit banyak dalil yang bisa digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan terhadap persoalan ini. Sehingga secara Fiqih sumber hukum akan sampah plastik didasarkan pada Ijma, Qiyas, Saddu Adz-Dzariah, dan Istishab.

Imam Abul Hasan Al-Amidi dalam Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam menyatakan bahwa Fiqih merupakan pengetahuan tentang hukum-hukum syariat amaliah yang didapat dari dalil-dalil yang terperinci. Dengan kata lain fiqih ialah persoalan yang terkait dengan prilaku manusia yang pemahaman hukumnya didasarkan pada syariat (sumber hukum). Dalam konteks permasalahan sampah plastik, pandangan agama islam berdasar pada hukum dasar yang menyatakan larangan bagi manusia untuk berbuat kerusakan di muka bumi. Termaktub dalam Al Quran,
-Ayat-
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya“. (QS. Hud [11]: 61).
Dalam ayat ini kata -kutipan ayat- ada penambahan huruf sin dan ta’ mengandung perintah. Maksudnya Allah memerintahkan kita agar memakmurkan bumi. Memakmurkan dalam arti memelihara, menyelamatkan, dan mengelolanya dengan baik dan benar, sehingga menghasilkan kemakmuran bagi manusia dan lingkungan.
Bahkan lebih tegas disebutkan

-ayat-
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman“. (QS. Al-A’raf [7]: 85).

Kedua ayat tersebut merupakan hal inti yang mendasari Ijma’ dalam Muktamar NU ke 29 tahun 1994 di Cipasung, Tasikmalaya, yang menyatakan bahwa haram hukumnya segala tindakan pencemaran lingkungan baik udara, air maupun tanah yang menimbulkan mudharat. Hal ini dipertegas dalam Munas Alim Ulama NU tahun 2019 di Banjar, Kalimantan Selatan yang menyebutkan bahwa buang plastik sembarangan diputuskan haram jika diduga kuat akan membahayakan lingkungan dalam jangka pendek ataupun jangka panjang.

Secara terperinci hukum pembuangan sampah plastik di Qiyas kan pada larangan berbuat kerusakan di muka bumi sebagaimana al-ashlu (hukum dasar) dalam QS. Al-A’raf [7]: 85, sampah plastik secara sifat memiliki ‘illat (sifat yang serupa) dalam merusak bumi. Sehingga secara al-far’u (hukum turunan) sampah plastik juga dilarang.

Larangan akan sampah plastik juga disandarkan pada Saddu Adz-Dzariah (pencegahan) mengutip al-Qarafi, sadd adz-dzari’ah adalah memotong jalan kerusakan (mafsadah) sebagai cara untuk menghindari kerusakan tersebut. Meski suatu perbuatan bebas dari unsur kerusakan (mafsadah), namun jika perbuatan itu merupakan jalan atau sarana terjadi suatu kerusakan (mafsadah), maka kita harus mencegah perbuatan tersebut. Dalam konteks sampah plastik, kerusakan lingkungan timbul akibat sifat-sifat plastik yang sukar diurai dan melepaskan senyawa beracun terhadap lingkungan.

Dan larangan akan sampah plastik, juga bersumber dari Istishab (status quo). Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah (w. 751 H) menyebutkan bahwa istishab adalah menetapkan berlakunya suatu hukum yang telah ada atau meniadakan sesuatu yang memang tidak ada sampai ada yang mengubah kedudukanya atau menjadikan hukum yang telah di tetapkan pada masa lampau yang sudah kekal menurut keadaannya sampai terdapat dalil yang menunjukkan perubahannya. Dalam lingkup persoalan sampah plastik, tugas manusia menjaga lingkungan sebagaimana (QS. Hud [11]: 61) merupakan sebuah kewajiban yang akan terus-menerus dilakukan oleh manusia. Membuang sampah merupakan antitesa dari syariat tersebut, sehingga hal ini dilarang.

Beranjak dari pemaparan-pemaparan di atas, komitmen Nahdlatul Ulama dalam penanggulangan sampah plastik secara etis, sudah diinisiasi dengan terbitnya fatwa-fatwa serta hasil dari Bhatsul Masail yang mulai membuka pembahasan atas permasalahan sampah plastik. Secara organisasi, hasil dari Bhatsul Masail pun mulai disosialisasikan melalui kelembagaan NU melalui badan otonomnya seperti pengajian-pengajian pada IPNU-IPPNU, Muslimat, dan Fatayat. Beberapa pondok pesantren juga memulai kajian kontemporer “Ngaji Plastik” untuk mensosialisasikan bahaya sampah plastik serta cara-cara untuk mendaur-ulang.

Nahdlatul Ulama juga berkomitmen untuk menanggulangi sampah secara praksis melalui pendirian badan otonom Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI). Dalam lembaga ini dibentuk pula Bank Sampah Nusantara (BSN) yang didirikan pada komunitas-komunitas pesantren dan desa-desa untuk mengumpulkan sampah dan memberikan edukasi akan pengolahan sampah.

KH Yahya Cholil Staquf dalam artikel Governing The Nahdlatul Ulama mempertegas bahwa NU adalah Organisasi jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah yakni organisasi keagamaan serta kemasyarakatan. NU tidak hanya membicarakan masalah ubudiyah, namun NU harus mengembalikan keseimbangan antara kepedulian terhadap masalah-masalah keagamaan dan kepedulian terhadap masalah-masalah kemasyarakatan seperti masalah lingkungan.

Akhir kata, kehidupan manusia di dunia tidak hanya berhubungan dengan Allah (hablum minallah) semata, tetapi juga hubungannya dengan manusia (hablum minannas), dan lingkungan atau alam (hablum minal alam). Kasih sayang manusia terhadap sesama dan lingkungan atau alam sekitar merupakan perwujudan tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi (khalifah fil ardh). Sebagaimana dijelaskan dijelaskan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) bahwa setiap hamba yang penyayang, maka ia akan disayang Allah SWT. Beliau mengutip sebuah Hadis
-ayat hadis-
“Hanya mereka, hamba-hamba Allah yang penyayang yang disayangi oleh Allah,” inilah tugas sejati manusia sebagai khalifah di muka bumi.

URGENSI DAN PERAN BAHASA INGGRIS

Pemantik: Hardina DN

Banyak orang berfikir “perlu nggak sih belajar Bahasa Inggris?” pertanyaan yang sekarang ini tidak perlu dipertanyakan kembali. Meningkatnya interdependensi antarnegara menjadikan Bahasa Inggris tidak lagi hanya menjadi Bahasa pertama (English as First Language) di negara-negara penggunanya,tetapi juga merupakan Bahasa seluruh negara di dunia dalam posisinya sebagai lingua franca.  Saat ini Bahasa Inggris sudah menjadi begitu kuat dan berpengaruh. Kesadaran akan Bahasa inggris membuat orang mengerti apa yang mereka butuhkan sehingga mereka dapat memanfaatkan peluang yang ada (Hutchinson & Waters, 1987).

Banyak negara yang menganggap Bahasa Inggris sebagai salah satu mata pelajaran terpenting sehingga diajarkan sejak tingkat SD (Sekolah Dasar) sampai PT (Perguruan Tinggi). Mereka berpandangan bahwa negara membutuhkan lebih banyak orang yang mahir berbahasa Inggris untuk dapat bertahan sebagai bagian dari komunitas global. Bahasa Inggris dianggap sebagai alat untuk mengenal lebih banyak tentang budaya asing dalam perspektif internasional (Panggabean, 2017)

Namun, meskipun Bahasa Inggris di Indonesia telah dipelajari secara luas, masih banyak penduduk Indonesia yang belum mampu menggunakan Bahasa Inggris. Umumnya mereka hanya menggunakan Bahasa inggris di waktu-waktu tertentu, selain itu kemahiran dalam berbahasa Inggris juga menjadi salah satu syarat penerimaan mahasiswa di jenjang S2 dan S3 di beberapa PT dan merupakan legalisasi permintaan dalam melamar pekerjaan. 

Selain itu, dalam bidang penulisan karya ilmiah untuk publikasi di jurnal Internasional yang terindeks Scopus, Elsevier,ataupun yang lain, Indonesia masih belum menandingi negara tetangga. Menurut Scimago Journal Ranking, (https://www.scimagojr.com/countryrank.php) Indonesia berada di bawah Singapura, Malaysia, Pakistan,  Iran, dan Korea Selatan. Sebagai catatan, untuk masuk dalam peringkat universitas tingkat dunia, sebuah PT harus memenuhi sejumlah standar internasional yang tidak terlepas dari kemahiran berbahasa Inggris. 

Urgensi lain penguasaan Bahasa Inggris di Indonesia adalah untuk mempersiapkan  tenaga kerja Indonesia memasuki pasar Internasional dengan standar yang lebih tinggi dari yang sekarang  sehingga dapat mempercepat transformasi ekonomi dan teknologi. Dalam tahap awal seleksi administrasi, sudah sangat umum bahwa setiap perusahaan meminta nilai TOEFL yang sesuai capaian target untuk mengetahui tingkat kemahiran calon pegawainya. Baru saja pembukaan sekeksi CPNS 2019 dibuka, lebih kurang 11 instansi sudah menetapkan skor TOEFL minimum untuk dapat lolos verifikasi berkas. Salah satu instansi semacam Kementrian Luar Negeri hanya membuka 132 jumlah formasi yang akan diperebutkan oleh orang-orang se-Indonesia yang mana dari awal jika tingkat nilai kemahiran pelamar di bawah nilai minmum, bisa dipastikan pelamar tidak akan melenggang ke seleksi selanjutnya.

Adapun peran Bahasa Inggris di dunia dapat dikategorikan atas tiga yakni English as First Language (EFL), English as a Second Language (ESL), dan English as a Foreign Language (EFL). Bahasa Inggris yang digunakan sebagai alat komunikasi serta Bahasa resmi seperti di Inggris, Amerika Serikat, dan beberapa negara bagian termasuk klasifikasi English as First Language dimana mereka menggunakan Bahasa Inggris sebagai Bahasa pertama mereka. Sedangkan di negara di mana Bahasa Inggris menempati posisi sebagai ESL (Bahasa kedua), Bahasa Inggris dipelajari dan digunakan secara luas sebagai Bahasa sehari-hari dan Bahasa resmi (Singapura, Malaysia, dan sejumlah negara Afrika). Lain halnya dengan negara di mana Bahasa Inggris sebagai EFL (Bahasa inggris sebagai Bahasa asing), Bahasa Inggris tetap dipelajari di sekolah dan universitas tetapi tidak digunakan secara luas atau sebagai Bahasa resmi (Thailand, Jepang, dan Indonesia). 

Meskipun secara teoretis, posisi Bahasa Inggris di Indonesia sama seperti di Jepang, Korea Selatan, dan Iran, namun penguasaan Bahasa Inggris masyarakat Indonesia masih jauh berada di bawah negara-negara tersebut (https://www.ef.co.id/epi/regions/asia/). Salah satu indikatornya adalah, jumlah publikasi internasional yang ditulis orang Indonesia di jurnal-jurnal terideks pemeringkat dunia belum sebanyak jumlah yang ditulis oleh akademisi dari negara-negara tersebut, 

Dengan terbatasnya pemaparan urgensi dan peran  diatas, perlu disadari bahwa penggunaan Bahasa Inggris sebagai Bahasa pengantar di dunia harus dipersiapkan sedini mungkin guna membantu terwujudnya masyarakat yang berkembang dalam aspek pendidikan dan dunia kerja. Tidak ada ruginya untuk mempersiapkan hal-hal yang akan dibutuhkan, dan kecakapan Bahasa Inggris salah satunya. Sedia payung sebelum hujan, Bahasa Inggris bisa kita taklukkan kawan.

MEMBANGUN KESADARAN EKOLOGI MELALUI LITERASI

Pemantik – Dyah Ayu Puspitasari

Menghadapi era revolusi industri 4.0 isu lingkungan adalah salah satu permasalahan kontekstual yang penting dipahami oleh masyarakat. Hal tersebut dikarenakan revolusi industri 4.0 yang menjanjikan kehidupan serba praktis berpotensi mengubah cara interaksi manusia dengan alam. Dari revolusi industri pertama sampai dengan yang ketiga dapat diperoleh pelajaran bahwa teknologi disamping meringankan kerja manusia juga menguatkan kecenderungan manusia untuk menguasai dan mengeksploitasi alam demi kepentingan kelompok tertentu. Selain itu, revolusi industri 4.0 juga memicu perubahan pola konsumsi masyarakat. Tuntutan hidup yang serba praktis menjadikan masyarakat cenderung konsumtif dan melakukan tindakan konsumsi melebihi batas kebutuhan. Perilaku konsumtif yang tak terkendali tersebut berakibat pada produksi limbah yang tak terkendali pula. Permasalahannya adalah kemampuan alam menyediakan sumberdaya serta kemampuan bumi menampung limbah bersifat terbatas.

Sudah banyak contoh bencana yang terjadi akibat pembuangan limbah secara tidak bijaksana. Beberapa di antaranya bencana banjir akibat aliran sungai tersumbat limbah popok sekali pakai, longsor sampah, dan wabah penyakit minamata yang mengerikan.

Masalah lingkungan adalah tanggung jawab seluruh anggota masyarakat tanpa terkecuali. Tanggung jawab tersebut tidak hanya dibebankan kepada pihak-pihak yang konsen mengaji bidang ilmu tertentu. Siapapun dengan latar belakang ilmu apa saja dapat memberi peran strategis menciptakan lingkungan hidup yang kondusif melalui bidang ilmunya termasuk melalui bidang ilmu bahasa. Ilmu bahasa dapat mendukung terciptanya masyarakat memiliki sikap peduli lingkungan yang baik melalui literasi. Literasi adalah pintu utama pengetahuan masyarakat untuk membudayakan sikap positif termasuk sikap peduli lingkungan. Oleh karena itu, untuk membangun sikap peduli lingkungan yang membudaya di masyarakat hal pertama yang harus dilakukan adalah meningkatkan kualitas literasi masyarakat.

Hal pertama yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas literasi masyarakat adalah dengan mengakrabkan masyarakat tersebut dengan budaya membaca. Melalui gemar membaca diharapkan masyarakat memperoleh banyak ransangan informasi mengenai energi terbarukan, pentingnya menjaga ekosistem, dan mengerti cara mengelola limbah dengan benar. Dengan demikian, masyarakat tahu apa yang harus mereka lakukan untuk berkonstribusi dalam menjaga lingkungan hidup. Oleh karena itu ruang yang menyediakan fasilitas belajar khususnya mengenai isu lingkungan untuk masyarakat secara konsisten perlu diadakan. Salah satu ruang yang strategis adalah pengadaan taman baca yang konsisten memberikan edukasi mengenai isu-isu lingkungan yang bersifat kontekstual seperti masalah sampah. Tabel pola kegiatan literasi berbasis ekologi yang diterapkan oleh Taman Baca Masyarakat Program Donasi Sampah untuk Literasi berikut ini mungkin bisa memberi sedikit gambaran mengenai kegiatan yang bisa dilakukan untuk membentuk masyarakat yang peduli terhadap lingkungan.

Peran literasi dalam menjaga bumi tetap kondusif memiliki peran yang sama pentingnya dengan penciptaan teknologi dan metode pengolahan sampah mutakhir. Hal itu dikarenakan pertanyaan “Apakah pengelolaan sampah dapat mengurangi jumlah sampah?” sebatas bisa dijawab dengan beragam keraguan. Akan tetapi, cerita-cerita dan gagasan-gagasan mengenai problematika lingkungan hidup dan cara bijaksana hidup berdampingan dengan alam yang dipajankan secara konsisten melalui kegiatan literasi dapat mempengaruhi persepsi dan perilaku masyarakat untuk menerapkan hidup minim sampah.

PENDIDIKAN, PENGUSAHA, DAN KAPITALISME PENDIDIKAN

Pemantik – Bangkit Satria

Pendidikan di Indonesia sudah seperti kemacetan di kota Malang permasalahan yang terlihat nyata berdampak ke masyarakat tapi tidak pernah ada solusi yang mengatasinya, sudah berbagai cara dilakukan tapi belum ada yang pernah bisa mengatasinya. Berbagai macam formula untuk mengatasi masalah Pendidikan di Indonesia tapi yang terjadi malahan adalah perdebatan tentang ketepatan formula itu sendiri dan bagaimana dapat negatif dari formula yang baru diterapkan tersebut. Formula yang terakhir dicoba oleh Pak Muhajirin Mendikbud yang dulu dengan menerapkan sistem zonasi. Sistem zonasi dipercaya akan mereduksi ketimpangan kualitas Pendidikan selama ini, alih-alih berhasil formula ini malah mendapat penolakan dan juga kritikan tajam dari masyarakat. Ketimpangan kualitas “Sekolah Kota” dan “Sekolah Daerah” memang sudah lama menjadi permasalahan, bukanya memaratakan infratrukstur, pemerintah malah membatasi pilihan sekolah para peserta didik. Selain kurang meratanya infratrukstur pendidikan yang disediakan pemerintah ada beberapa permasalahan seperti;

  1. Kualitas Pendidik
  2. Kesejahteraan Pekerja di dunia Pendidikan
  3. Mahalnya biaya Pendidikan
  4. Literasi yang rendah
  5. Gap yang terlampau jauh dengan dunia kerja
  6. Kekerasan didalam lingkup instansi Pendidikan
  7. KeBhinekaan dalam dunia Pendidikan

Presiden terpilih Jokowi memutuskan untuk menunjuk Nadiem Makarim pendiri Aplikasi GoJek. Kalo kita melihat latar belakang pendidikan ataupun karir dari Nadiem Makarim ini, memang sudah sewajarnya muncul sikap pesimis dan skeptic. Nadiem Makarim merupakan alumni Universitas Brown dalam bidang hubungan Internasional dan Universitas Harvard dibidang Adminstrasi Bisnis. Pada beberapa statement Nadiem di beberapa kanal berita mengatakan bahwa penunjukan dirinya menjadi Mendikbud dikarenakan pemahaman beliau terhadap perkembangan teknologi dimasa depan. Nadiem melanjutkan bahwa untuk bisa mengelola 300 ribu sekolah dan juga 50 juta peserta didik, harus menggunakan peran teknologi. Hal ini nantinya bakal memicu pro dan kontra, seperti yang disampaikan Fahrul Razi wakil ketua Majelis Tabligh PP Muhammdiyah yang mengatakan kepada kanal berita Tirto “ini mengkhawatirkan. Ahli boleh, tapi tepat enggak?, Fahmi menegaskan mengurusi pendidikan itu berat, bukan hanya membuat peserta didik melek teknologi saja tapi juga perkara membentuk karakter.
Beberapa statemen dari Jokowi atau Nadiem menunjukan bahwa pendidikan di periode kepimpinan jilid 2 Jokowi diarahkan untuk menyiapkan pekerja untuk kebutuhan Industri. Hal tersebut membuat polemik akan tujuan pendidikan nasional. Dalam UU Sisdiknas pasal 3 tujuan dari pendidikan nasional adalah :
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”
Jelas dikatakan dalam UU Sisdiknas bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan, mengembangkan potensi dan juga membentuk karakter peserta didik, bukan dengan mengarahkan peserta didik menjadi pekerja untuk industry usaha, walaupun benar adanya bahwa lulusan sistem pendidikan sekarang banyak yang tidak memiliki ketrampilan yang bisa ditawarkan dalam dunia kerja, dan hal ini juga merupakan sebuah persoalan. Jika Nadiem memang benar-benar memfokuskan sistem pendidikan yang membentuk peserta didik menjadi siap kerja dan usaha, yang menjadi kekhawatiran adalah bagaimana kekreatifisan para peserta didik ini akan semakin tidak diterima di lingkungan sekolah. Kita tahun sendiri disaat ini saat Satuan pendidikan berfokus pada pembentukan karakter yang nasionalis ataupun yang agamis, tidak jarang definisi dari siswa pandai itu adalah PATUH. Beberapa praktik kekreatifitasan akan dibiayai bila mendapat juara yang dapat di masukan kedalam wacana promosi satuan pendidikan. Tanpa ada dukungan akan kekreatifitas peserta didik bisa dipastikan wacana sistem pendidikan yang memenuhi kebutuhan kerja hanya akan menambah kelas-kelas pekerja di Indonesia.
Penunjukan Nadiem Makarin sebagai Mendikbud jelas-jelas merupakan bagaian dari rencana Jokowi untuk membuat Indonesia sebagai Surga Investasi Dunia, yang sudah kita ketahui bersama bagaimana di periode sebelumnya bagaimana Jokowi dengan getol mengundang negara-negara Utara untuk berinvestasi di Indonesia. Menyiapkan generasi-genarasi muda yang siap kerja untuk para pengusaha ini bagai pisau bermata dua dari segi positif tentu saja akan sangat membantu perkembangan ekonomi di negara ini, saat ekonomi membaik, tapi dari segi buruknya investasi, Callincos dalam bukunya ”Imperialism and Global Political Economy” mengatakan bahwa penanaman modal ke negara lain yang sering disebut sebagai investasi ini merupkan bentuk Imperialisme gaya baru. Berbeda dengan Imperialis gaya lama yang mengharuskan negara Imprealis untuk melakukan okupasi menggunakan militer, Imperialis gaya baru tidak terlalu perlu menggunakan kekuatan militer untuk dapat menguasai wilayah baru. . Kita bisa lihat contoh yang Amerika lakukan terhadap penguasaan tembaga dan emas oleh perusahaan Freeport di Papua. Mereka tidak lantas memindahkan semua orang Amerika untuk menguasai perusahaan tersebut, namun justru merekrut pekerja, ahli, bahkan keamanan dari pihak Indonesia. Secara keuntungan, Amerika sebagai suatu negara tetap diuntungkan dengan adanya pajak terhadap perusahaan tersebut.
Apakah dengan kondisi pendidikan nasional yang seperti ini kita akan tetap berdaulat bila sistem pendidikan difokuskan untuk membuat pemodal berbisinis dengan nyaman?